CINTA SEKOLAH

Blogg ini Didedikasikan sebagai rasa hormat untuk lembaga pendidikan dan untuk mengenang masa-masa sekolah


Pandangan Islam terhadap Hari Valentine


Pandangan Islam terhadap Hari Valentine
Tanggal : 13/02/2006

Untuk muda-mudi generasi penerus, tulisan ini akan memaparkan sedikit panjang lebar tentang CINTA, yang ternyata eksploitasi cinta tanpa tuntunan agama akan bermuara kepada pergaulan seks bebas dan merusak tatanan , bahkan eksploitasi cinta akan dapat menggiring pelakunya ke sikap pendewaan cinta yang akhirnya akan dapat menggiring seseorang kepada kesyirikan yang tidak disadarinya.

Kali ini akan kita kupas tentang Valentine yang secara kebetulan perkembangannya paralel dengan eksploitasi cinta, seks bebas dan materialisme. Tahun demi tahun hiruk-pikuk valentine makin bertambah instensitasnya, dahulu hanya muda-mudi kota-kota besar seperti Jakarta yang mengenal Valentine dan merayakannya, kini sudah mulai merambah ke muda-mudi desa-desa kecil yang ada di Indonesia ini, Valentine tidak saja dikenal oleh para remaja tetapi juga sudah dikenal dan dirayakan oleh anak-anak SD.

Dari sudut pandang ke-Islam-an, ternyata Valentine adalah sebuah perayaan yang harus dijauhi oleh para muda-mudi dan anak-anak muslim dan muslimah, dan sebaiknya para orang tua memberikan informasi kepada anak-anaknya bahwa Valentine bertentangan dengan nilai-nilai ke-Islam-an, memang bukan merupakan hal yang mudah karena sesungguhnya kita berhadapan dengan arus modernisme yang telah mengglobal dan salah kaprah. Opini tidak ketinggalan zaman dan tidak gaul bila tidak merayakan Valentine adalah salah satu kendalanya, namun dengan cara yang baik dan informasi yang akurat, Insya Allah informasi tersebut akan menjadi nasehat yang akan mudah untuk diikuti dan ditaati.

Untuk itu dalam kajian ini, akan dikupas tentang Valentine sedikit panjang lebar agar kita mendapatkan informasi yang komprehensif1 dan akurat sehingga kita dapat mensikapi hiruk-pikuk Valentine yang tahun-demi-tahun harus kita akui memang telah bertambah intensitasnya.

Sejarah Valentine

Valentine adalah nama seseorang pemimpin agama Katolik yang telah dianggap menjadi martir ?Islam : Syuhada- oleh orang-orang Kristen (katolik) dan Valentine telah diberi gelar sebagai orang suci (Santo) oleh orang-orang Kristen.

Kisahnya bermula ketika raja Claudius II (268 - 270 M) mempunyai kebijakan yang melarang prajurit-prajurit-nya untuk menikah. Menurut raja Claudius II, bahwa dengan tidak menikah maka para prajurit akan agresif dan potensial dalam berperang.

Kebijakan ini ditentang oleh Santo Valentine dan Santo Marius, mereka berdua secara diam-diam tetap menikahkan para parujurit dan muda-mudi, lama-kelamaan tindakan mereka diketahui oleh raja Claudius, sang rajapun marah dan memutuskan untuk memberikan sangsi kepada Valentine dan santo Marius yaitu berupa hukuman mati.

Sebelum dihukum mati, Santo Valentine dan Santo Marius dipenjarakan dahulu, dalam penjara Valentine berkenalan dengan seorang gadis anak sipir penjara, kemudian gadis ini setia menjenguk valentine hingga menjelang kematian Valentine. Sebelum Valentine dihukum mati, Valentine masih sempat menulis pesan kepada gadis kenalannya, yang isinya :

' From Your Valentine '

Setelah kematian Santo Valentine dan Santo Marius, orang-orang selalu mengingat kedua santo tersebut dan merayakannya sebagai bentuk ekspresi cinta kasih Valentine, dua-ratus tahun kemudian yaitu tahun 496 Masehi setelah kematian Santo Valentine dan Santo Marius, Paus Galasius meresmikan tanggal 14 Pebruari 496 sebagai hari Velentine.

Itulah sejarah hari Valentine yang ternyata untuk mengenang dan memperingati dua orang suci Kristen Katolik yang mengorbankan jiwanya demi kasih sayang.

Ada versi lain tentang sejarah Valentine, yaitu pada masa Romawi Kuno, tanggal 14 Pebruari merupakan hari raya untuk memperingati dewi Juno, dewi Juno adalah ratu dari segala dewa dan dewi, orang-orang Romawi kuno juga meyakini bahwa dewi Juno adalah dewi bagi kaum perempuan dan perkawinan ?dewi cinta.

Pada tanggal 14 Pebruari orang-orang Romawi kuno mengadakan perayaan untuk memperingati Dewi Juno dengan cara memisahkan kaum laki-laki dan perempuan. Nama-nama remaja perempuan ditulis pada potongan kertas lalu digulung dan dimasukkan ke dalam botol, setelah itu para laki-laki mengambil satu kertas sebagai, setiap laki-laki akan mendapatkan pasangan sesuai nama yang didapat dalam undian tersebut, bila kemudian mereka ada kecocokan maka mereka akan melangsungkan pernikahan dihari-hari berikutnya.

Valentine dan Barat

Pada abad ke 16 Masehi, perayaan Valentine yang semula merupakan ritual milik agama Kristen Katolik telah berangsur-angsur bergeser, yang semula untuk memperingati kematian santo Valentine dan Marius telah bergeser menjadi hari ?Jamuan Kasih Sayang? yang disebut sebagai ?Supercalis? seperti yang dirayakan oleh bangsa Romawi Kuno pada tiap tanggal 15 Pebruari.

Sedangkan pada abad pertengahan di dalam bahasa Perancis-Normandia terdapat kata ?Galentine? yang berasal dari kata Galant yang berarti cinta, persamaan bunyi antara Galentine dan Valentine disinyalir telah memberikan ide kepada orang-orang Eropa bahwa sebaiknya pada tanggal 14 Pebruari digunakan untuk mencari pasangan. Dan kini Valentine telah tersinkretisasi dengan peradaban Barat.

Valentine telah menjadi bentuk pesta hura-hura, simbol modernitas, sekedar simbol cinta, dan sudah mulai bernuansa pergaulan bebas dan seks bebas.

Banyak para muda-mudi yang mengadakan pesta Valentine hanya karena ikut-ikutan supaya tidak dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul, orang yang ikut-ikutan pesta valentine seakanakan telah menyandang predikat sebagai orang yang modern dan maju, padahal dia tidak tahu apa-apa tentang sejarah Valentine dan Valentine itu sendiri, padahal Valentine sendiri bukanlah hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Tentu saja Barat adalah yang paling diuntungkan dengan hiruk-pikuk pesta Valentine, karena di dalam pesta valentine orang didukung untuk hura-hura, mencari cinta sesaat dan instan, seks bebas, galmour yang semuanya itu mengarah ke peradaban Barat.

Ketika Al-Islah mengadakan survey via telepon terhadap beberapa masyarakat kota, ada seorang koresponden yang pernah berada di luar negeri memberikan pandangannya bahwa Valentine telah menjadi media Barat untuk memasarkan produknya, merebaknya Valentine di kalangan muda-mudi, menjadikan mereka ramah dan permisif terhadap produk-produk Barat, antara lain fashion, kafe, hotel, film, seks pranikah, dan lain sebagainya.

Namun kalau kita mau jeli dan teliti, Valentine memang bisa menjadikan seseorang merasa tidak ketinggalan zaman, gaul, fashionable dan segudang simbol peradaban Barat lainnya, salah satu faktor besarnya daya jual produk-produk Barat adalah terbangunnya opini tersebut dikalangan muda-mudi, contoh, orang ingin mengganti Hp-nya dengan HP baru hanya dengan satu alasan saja yaitu ?model baru lebih trendy atau fashionable yang lama telah ketinggalan jaman dan memalukan? , opini semacam itulah yang ingin dibangun barat melaui acara-acara Valentine.

Survey Membuktikan

Dari wawancara dengan beberapa koresponden yang ada diwilayah pinggiran kota via telepone ketika diajukan pertanyaan apakah Valentine itu ? didapatkan hasil rata-rata para koresponden dari kalangan remaja memberikan jawaban bahwa Valentine adalah hari kasih sayang walaupun sebagian besar dari mereka tidak mengetahui sejarah Valentine. Dan ketika mereka ditanya apakah ingin merayakan Valentine?, sebagian besar menjawab ya dan ingin merayakan bersama sang kekasih, sebagian yang lainnya menjawab tidak perlu dengan alasan kasih sayang itu bukan hanya satu hari itu saja tetapi sepanjang tahun, dan ada juga yang memberikan alasan karena Valentine adalah budaya Barat yang memiliki efek negatif dan merusak. Yang cukup mengejutkan ada seorang anak SD yang tahu tentang hari Valentine dan ingin merayakan dengan memberi hadiah kepada teman spesial.

Dan dari wawancara dengan korespeonden yang sudah berumah tangga dengan kisaran umur antara 30 tahun hingga 50 tahun memberikan hasil bahwa ketika mereka dalam usia remaja mereka sebagian besar tidak tahu tentang Valentine walaupun pernah mendengar kata Valentine, sebagian kecil mengatakan ketika masih remaja mereka telah tahu tentang Valentine tetapi tidak pernah merayakannya. Dan ketika diberi pertanyaan lanjutan apakah akan memberikan izin kepada anaknya untuk merayakan Valentine, sebagian besar menjawab tidak masalah asal tidak kebablasan, dan sebagian yang lain mengizinkan tetapi dengan memberikan pengarahan dan sebagian yang lainnya lagi akan melarang karena mengetahui bahwa Valentine adalah budaya Barat dan bertentangan dengan agama Islam.

Dari wawancara tersebut dapat diperoleh gambaran tentang opini dan sikap masyarakat mengenai Valentine ?walaupun kurang akurat-:

Pertama, kalangan muda-mudi hampir 100% telah mengenal Valentine padahal para orang-tua mereka hampir 100% tidak mengenal Valentine pada masa remajanya berarti Valentine telah berkembang pesat dalam satu generasi.

Kedua, hanya sebagian kecil remaja yang menentang Valentine dan hampir 100% yang tidak mengetahui tentang sejarah Valentine.

Dan sekarang mari kita tinjau pandangan Islam tentang Valentine dan bagaimana semestinya umat Islam harus bersikap.

PANDANGAN ISLAM TENTANG VALENTINE

Dari uraian sejarah Valentine dan hubungannya dengan peradaban Barat saat ini dapat diringkas bahwa Valentine merupakan :
  1. Ritual yang bersumber dari Kristen yang dikukuhkan oleh Paus Galasius untuk mengenang orang suci Kristen yaitu Santo Valentine dan Santo Marius
  2. Ritual orang-orang Romawi kuno yang pagan (penyembah berhala) untuk memperingati dewi Juno yaitu ratu dari segala dewa-dewi bagi perempuan dan perkawinan ( dewi cinta).
  3. Ritual bangsa Eropa pada abad pertengahan untuk mencari jodoh.
  4. Media Barat untuk mengkokohkan cengkraman peradaban Barat.,
Dari keempat jatidiri Valentine tersebut, tidak satupun yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, alasannya :

Pertama, Valentine merupakan ritual keagamaan yaitu agama Kristen, sehingga Valentine merupakan ibadah bagi agama Kristen, bukti bahwa Valentine sebagai ritual agama Kristen adalah ritual Valentine tersebut dikukuhkan oleh seorang Paus yaitu Paus Galasius untuk memperingati dua orang yang diberi gelar orang suci oleh orang-orang Kristen. Bagi Muslim mengikuti Valentine tersebut adalah sama dengan mengikuti peribadatan orang Kristen, di samping itu ada bahaya yang lain yaitu sinkretisasi antara agama Islam dan Kristen, Allah I telah memerintahkan kita untuk tidak mencampuradukkan ajaran agama Islam dengan ajaran agama manapun termasuk Kristen :
Bagimu agamamu, bagiku agamaku. QS. 109:1-6

Kedua, Valentine untuk memperingati/memuja dewi Juno adalah ritual yang dilakukan oleh orang-orang romawi Kuno yang menyembah berhala/dewa, sehingga mengikuti ritual ini dapat bernilai kesyirikan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Romawi Kuno yang menyembah berhala.
Bedakan diri kalian dari orang-orang Musyrik. HR. Bukhari-Muslim

Ketiga, Valentine sebagai sarana untuk mencari jodoh oleh orang-orang Eropa, mereka bertahayul bahwa kasih sayang akan mulai bersemi pada tanggal 14 Pebruari, tahayul adalah salah satu bentuk kesyirikan, sehingga haram hukumnya bagi umat Islam untuk mengikutinya.

Keempat, Valentine sebagai media barat telah diakui daya rusaknya terhadap tatanan masyarakat timur apalagi Islam, mengiktui Valentine bukan saja sekedar pesta untuk menyatakan kasih sayang, tetapi juga pesta yang mau-tidak-mau harus mengikutkan budaya yang lainnya, pergaulan bebas, fashion, pakaian minim, ciuman antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya, hidup glamour, materialistis, dansa-dansa, mengumbar nafsu dan lain-lain.
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, ia akan termasuk golongan mereka. HR. Ahmad

Tidak dapat dipungkiri lagi, Valentine adalah salah satu pintu masuk untuk menjadi sama dengan mereka.

Itulah jatidiri Valentine dan kedudukannya terhadap agama Islam, banyak para muda-mudi yang mengikuti Valentine hanya sekedar ikut-ikutan dan tidak mengetahui apa dan bagaimana Valentine yang sesungguhnya, mereka ikut hanya karena pernah melihat ada yang jualan kartu Valentine atau menerima kartu valentine, atau karena pernah diajak temannya ikut acara Valentine, atau karena pernah melihat propaganda Valentine di majalah-majalah, tv, film dan lain sebagainya, terhadap sikap para muda-mudi yang mengikut saja terhadap apa yang tidak diketahuinya, Allah SWT telah memberikan peringatan :

Dan janganlah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. QS. 17:36

Padahal para muda-mudi gaul sering berkata untuk memberi kesan/nilai negatif kepada temannya dengan perkataan ? sok tahu lu? ternyata mereka sendiri terhadap Valentine juga sok tahu. Wallahu a'lam.


Thank's .... To..
www.al-islahonline.com

PPTA BALONG DALEM

Suasana Dalam Tenda
"Mepende Hate Leungitkeun Cape"
hasil Jepretan Kak. Amat Supriatna




































Sanga Kerja PPTA Angkatan 26
Balong Dalem Kec. Jalaksana
Kab. Kuningan - Jabar

Hasil Jepretan Kak. Udin Khiyarudin (UU)










Angkatan 24,25 dan Dekaseban




PPTA

Hasil Jepretan Kak Amat Supriatna




















Lomba Uji Bantara ke II

"Memasak Air dalam Botol Air Kemasan
(Seri Kompor Darurat)"
Hasil Jepretan Dekaseban


































Kisah Abadi Dalam Cinta

Bila rembulan bersinar...
Dan Bintang Gemintang berkedip...
Mereka Saksikan pujangga merangkai cerita...
Tentunya cerita cinta kita berdua...

Lewat senyuman manis pena-Nya..
ia...menutur kisah...
Kenangan manis dulu yang pernah ada...
Tak dapat kulupa dan tentunya juga kamu...

Saat pertama berpandang mata...
Hingga kini kita saling menyatakan cinta....
Merajut Asmara...
Dan....bersatu dalam asa jiwa...

BIla nanti....
Kisah dibacakan dialam syurga...
Tentulah kisah kita yang meraja...

Beribu malaikat cemburu mendengar kisah kita...
Beratus iblis menangis iri dan benci...
Kisah Romeo dan Juliet menyingkir terusir...
Begitupun Kisah Ratu Kalinyamat yang kini tlah tamat...
Para Bidadari dan pelayan Syurga berdecak kagum...

Seuntai karangan bunga mengalungi leher sang pujangga...
Dan ia selalu berdo'a...
"Semoga Jalinan Cinta Kita .....
"kan tetap Abadi..."

Pak Totto. SM. (Wa Umis) Pramuka Ber-Vespa (1)


Tubuh tinggi kurus, Berkumis tebal dan Sorot Mata Tajam, serta berkacamata, itulah sepintas gambaran Fisik seorang Guru yang begitu aku hormati dan kagumi. ya...dialah Pak Totto Sudianto Mimassya dengan gelar S.Pd, bersamanya aku tak merasa sebagai siswa tapi lebih merasa sebagai sahabat, teman dan putranya.
Dibalik keadaan fisiknya terpendam suatu sifat yang sulit untuk dicari perbandingannya, pembawaan yang lembut, kalem dan mengayomi serta mau menerima usulan dan masukan walau dari siswa, menjadikan beliau begitu cepat memikat hati siapa saja yang berbincang dengannya.
Dalam kesehariannya beliau sebagai guru, Matematika adalah bidang ajarnya di SMK BM TI Yamsik Kuningan, disamping menjabat Wakil Kepala SMKN 1 Kuningan, tak ada siapapun yang bisa disejajarkan dengannya, ketegasan dan kedisiplinan dalam mengajar sangat ia tekankan, didalam kelas beliau berubah menjadi sosok guru yang sangat mengagumkan dan membuat siswa simpati karena gaya mengajarnya begitu memikat hati.
Namun, jika beliau berada dalam suatu kegiatan lapangan, semua sifatnya lebih jelas terlihat, Beliau adalah seorang yang memiliki hoby terjun kelapangan dari pada berada di belakang meja, walau sampai saat ini (tgl. 17 Januari 2009) beliau masih tercatat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan di SMKN 1 Kuningan - Jabar, tetapi semangat untuk terjun langsung dalam penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler tidak pernah luntur.
Beberapa prinsip dari Pak Totto atau yang lebih dikenal dengan sebutan Wa Umis diantaranya adalah :
  1. Lebih baik jadi pemain dari pada jadi penonton
  2. Lebih baik berkarya dari pada jadi karya
  3. Kegiatan lapangan lebih mengasyikan dari pada diam di ruangan
Dan banyak lagi yang tak mungkin penulis beberkan. Wa Umis, sosok sepuh dalam kepramukaan, khususnya di Ambalan Girilya-Mangkubumi Gudep 1382-1383 SMK Yamsik Kuningan, pemikirannya sering menjadi referensi bagi pembina pramuka di gudep ini dan paling sering menjadi instruktur Out Bond baik tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi, beliau masih terlalu setia untuk meninggalkan Sepeda Motor VESPA nya, mungkin terlalu banyak kenangan yang sudah tercipta bersama vesva tersebut.
Pada tahun 2003, ketika beliau menjabat Pembina Gudep di SMK Yamsik Kuningan sosok inilah yang mendorong Bantara alumni SMK Yamsik Kuningan, untuk membentuk sebuah ikatan alumni yang bergerak untuk mengkoordinir Dewan Ambalan Alumni SMK Yamsik dan turut terlibat dalam pelatihan serta pendidikan Gerakan Pramuka di Ambalan ini, dengan tujuan jangka panjang membentuk ikatan Alumni SMK Yamsik secara keseluruhan, hal ini mendapat sambutan yang luar biasa dari Alumni, bahkan mendapat persetujuan langsung dari Kepala Sekolah SMK Yamsik yang pada saat itu di jabat oleh Bapak Husein Madjid.V.Bsc. Almarhum (semoga beliau diterima disisi-Nya. Aminn).
Maka, pada tanggal 21 September 2003 ikatan alumni tersebut resmi dibentuk dengan nama DEKASEBAN (Dewan Kerja Senior Bantara), dan pada tanggal 15 Pebruari 2004 resmi mengadakan kerjasama dengan pihak Ambalan Girilaya-Mangkubumi SMK Yamsik Kuningan. atas permintaan dan saran dari Kak. Andi Rahmat (yang saat itu menjabat sebagai Pembina OSIS), maka nama Dekaseban dilengkapi dengan Ikatan Alumni SMK Yamsik Kuningan, sejak saat itu secara praktis ikatan alumni bernama Dekaseban Alumni SMK Yamsik Kuningan.
Melalui arahan dan bimbingan Wa Umis inilah Dekaseban berkembang, baik dalam segi keanggotaan maupun pendanaan, tercatat beberapa buah karya pemikiran dari Wa Umis yang direalisasikan oleh Dekaseban dalam hal penyelenggaraan pelatihan dan pendidikan gerakan Pramuka khususnya di Ambalan Girilaya-Mangkubumi Gudep 1382-1383 SMK Yamsik Kuningan, diantaranya.
  1. Program Turun Galang (Bantara membimbing Penggalang di tiap SMP asalnya)
  2. Pengujian SKU yang lebih Sitematis
  3. Pembuatan Tiang bendera yang lebih variatif saat pelaksanaan PPTA
  4. Pembentukan Pasukan Pengibar Bendera yang lebih modis pada saat PPTA
  5. Pembuatan Api unggun yang lebih kreatif
  6. Pembentukan dan Penyelenggaraan Diklat PPTA
Serta masih banyak lagi buah pikiran wa umis yang sampai sekarang masih relevan untuk digunakan khususnya di gudep 1382-1383.
Namun terkadang pengabdian dan jerih payah memang tak sebanding dengan imbalan yang diterima, namun walau begitu sosok Wa Umis si Pramuka Bervespa, tetap berkarya.

Wa umis... Semangatmu adalah semangat kami
Sosokmu akan berdiri dengan gagah dalam jiwa kami
Prinsipmu akan terpatri kokoh dalam sanubari kami
Teladanmu akan mendasar kalbu kami
___________________ ***___________________

Dekaseban 1



Mengasah Keterampilan Anak Sejak Dini

Manusia sebagai makhuk sosial sering dipahami bahwa ia secara individu mempunyai kecenderungan yang kuat untuk hidup bersama orang lain atau dalam kelompok. Perilaku ini didorong oleh nalurinya untuk mempertahankan diri pada kelompoknya. Ada semacam insting bahwa ia selalu memerlukan bantuan orang lain untuk dapat hidup dan mempertahankan hidupnya, mulai dari lahir hingga meninggal dunia. Persepektif ini seolah menempatkan manusia secara individu sebagai makhluk yang lemah. Ia tidak dapat hidup jika tidak ada orang lain.

Agama mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Esensi manusia sebagai makhluk sosial lebih bermakna apabila dipahami setiap manusia mempunyai tanggung jawab terhadap manusia lainnya. Tanggung jawabnya adalah bagaimana ia dapat berperan menciptakan tatanan kehidupan yang dapat mendukung terciptanya masyarakat yang tertib. Untuk itu setiap individu harus mempunyai ketrampilan sosial yang cukup agar dapat memberikan kontribusi demi terwujudnya tatanan kehidupan yang diidam-idamkan tersebut.
Ketrampilan sosial merupakan seperangkat sikap dan perilaku yang dapat mendorong tercipta-nya pola interaksi yang produktif dan tidak mengganggu. Permasalahannya adalah sejauh mana ketrampilan sosial telah dimiliki siswa. Sudahkah proses pendidikan membekali anak untuk menjadi warga masyarakat yang baik dan selalu peka terhadap lingkungannya ?

Keseimbangan
Proses pembelajaran di sekolah selama ini lebih mengedepankan out put lulusannya. Out put dapat diukur dengan melihat tingkat kelulusan dan rata-rata nilai akademis. Pengukuran dilakukan dengan memberikan berbagai tes ulangan harian, tengah dan akhir semester, ulangan kenaikan kelas, dan puncaknya adalah ujian nasional. Berbagai program disiapkan sekolah untuk memperoleh hasil nilai akademis, terutama nilai ujian nasional. Tidak segan-segan sekolah memberikan jam pelajaran tambahan (les) di pagi hari sebelum jam pelajaran pertama atau di siang/sore hari setelah jam pelajaran berakhir dan dilaksanakan pula beberapa kali try out. Singkatnya semua potensi sekolah dikerahkan demi suksesnya ujian nasional.
Akibatnya, sekolah hanya semata-mata menggarap academic skill dan kurang memperhatikan general life skill. Lebih khusus lagi yang menyangkut social skill (ketrampilan hidup sosial). Fenomena ini sungguh memprihatinkan, sehingga kita tidak perlu heran bila saat ini dijumpai siswa banyak yang pandai, namun kurang memiliki kepekaan hidup sebagai warga masyarakat yang baik. Kepedulian atau bahkan kesopanan, unggah-ungguh dan sikap menghormati orang lain begitu miskin ada pada diri para siswa. Yang muncul adalah egoisme dan kepentingan pribadi yang menonjol. Hal ini tidak semata-mata kesalahan anak, namun sekolah sebagai lembaga pendidikan formal seharusnya juga memiliki andil dan ikut bertanggung jawab atas perilaku para lulusannya.
Kecakapan sosial yang dapat dikembangkan di jenjang pendidikan antara lain kecakapan komunikasi lisan, tertulis dan bekerjasama. Belum banyak sekolah (guru) memberi peluang siswa untuk mengembangkan potensinya melalui komunikasi lisan, entah itu dengan wujud presentasi, debat, bermain peran atau pidato. Bahkan saat ini siswa mau bertanya pada guru juga sangat minim. Mereka mayoritas acuh tak acuh dan kurang responsif, meskipun guru telah memberikan kesempatan untuk bertanya.
Kecakapan tertulis sudah cukup bagus, karena seringnya guru memberi tugas atau kesempatan mengarang pada siswa. Namun akibat kurang perhatian dan pembimbingan, akhirnya siswa hanya menjalankan tugas sekadarnya demi gugurnya kewajiban. Bila kedua kecakapan ini dapat dioptimalkan akan menjadi bekal siswa dalam ajang kehidupan lebih lanjut. Siswa yang pandai belum tentu mampu mempresentasikan dan bicara secara urut dan runtut. Demikian pula siswa yang pandai mengarang, mereka belum tentu trampil dalam mengomunikasikan secara lisan.
Kecakapan kerjasama siswa juga masih lemah. Pelajaran mayo-ritas hanya ceramah dan kurang memberi kesempatan siswa untuk membangun kerjasama deng-an siswa lain. Akibatnya siswa hanya mementingkan kebutuhannya sendiri dan tumpul dalam solidaritas sosialnya. Fakta ini pantas dijadikan renungan para pendidik secara luas. Pendidikan tidak sekadar pandainya otak, namun kecerdasan sosial pantas dan harus dioptimalkan.

Solusi
Ketrampilan sosial dapat ditumbuhkan sedini mungkin. Sejak taman kanak-kanak (TK), guru dapat menugaskan peserta didik untuk selalu bekerjasama, saling tolong menolong entah dengan mengangkat meja, kursi atau dengan cerita yang mampu menggugah pentingnya orang hidup. Yakni harus menjalin kerjasama dengan orang lain.
Di jenjang sekolah dasar (SD), kepekaan sosial dapat ditumbuhkan melalui kerjasama di dalam kelas. Misalnya piket bersama, saling bantu membantu menjaga kebersihan dan anak dibiasakan untuk berani berpendapat serta bertanya pada guru menyangkut persoalan yang belum jelas. Untuk kedua jenjang ini, faktor guru benar-benar sangat dominan. Guru yang terkenal angker dan menakutkan anak, sangat tidak mendukung pengembangan ketrampilan sosial ini.
Di tingkat sekolah menengah, guru dapat menugaskan para siswa untuk menyelesaikan tugas kelompok secara baik. Guru dapat menekankan, kekompakan bagian dari penilaian. Dengan demikian dapat dipastikan siswa akan tampil secara kompak menyikapi nasihat guru tersebut. Sudahkah kita berbuat demikian ? (*)

*Oleh:
Sarbun H.S.
Guru SMPN 1 Ungaran
Jalan Progo No 26
Sidomulyo Ungaran

Radar Semarang

    PERSIB

    - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -